Bismillahhirrahmanirrahim….
Disebutkan pada suatu kisah pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang sangat sombong dan tamak. Raja itu mempunyai kerajaan yang sangat besar dengan seluruh rakyat yang selalu memuja raja tersebut dan menganggap raja itu sebagai Tuhan. Sewaktu itu islam belum dikenal dan disebarkan. Sang raja mempunya ahli sihir yang selalu membantu dirinya, namun si ahli sihir itu sudah semakin tua dan harus segera ada pengganti dirinya. Raja pun mencari seorang pemuda yang mau belajar dari si ahli sihir itu agar setelah itu ia dapat menggantikan si ahli sihir untuk bekerja kepada sang raja. Akhirnya dipilihlah seorang pemuda yang nantinya akan dijadikan pengganti si ahli sihir tersebut. Setiap hari sang pemuda datang ke istana untuk belajar kepada si ahli sihir tersebut. Hari berganti hari, sang pemuda semakin tekun menjalani ilmu yang diajarkan oleh si ahli sihir itu. Suatu ketika, dalam perjalanan menuju ke istana, si pemuda beristirahat sejenak di sebuah tempat tua. Di sana ternyata ada seorang pendeta. Pemuda pun berkenalan dengan pendeta tersebut. Walaupun baru saja saling kenal, sipemuda dan pendeta sudah terlihat sangat akrab. Pemuda sudah banyak belajar dari sang pendeta. Karena hal inilah, pemuda menjadi terlambat datang ke istana untuk berlatih dengan si ahli sihir. Tentu saja si ahli sihir marah, terlebih ketika pemuda mengulangi hal tersebut berkali-kali, terlambat setiap kali datang latihan. Setiap harinya, sebelum datang ke istana si pemuda selalu mampir ke tempat si pendeta. Di sana ia belajar banyak hal, yang satu pasti adalah si pendeta mengajarkan ia tentang ajaran tauhid. Ya, ajaran tentang peracya bahwa tuhan itu ada, Tuhan itu satu, Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia. Begitu besar kuasaNya.
Walaupun, si pemuda selalu terlambat dan selalu mendapat marah dari si ahli sihir itu karena datang terlambat setiap kali latihan, si pemuda tak mau menyerah. Ia tetap saja berguru apada si pendeta itu. Bahkan, dengan akal cerdiknya ia membuat alasan atas keterlambatan dia kepada si ahli sihir itu, hingga akhirnya si ahli sihir itu dapat memakluminya. Akhirnya, setiap harinya kini si pemuda belajar dari kedua orang yang berbeda dengan ajaran yang sangat berbeda pula. Setelah sekian lama ia belajar dari kedua orang guru, si pemuda kini sudah menjadi ahli sihir sekligus ia juga telah mendalami ajaran dari sang pendeta. Suatu ketika, ia dipanggil oleh raja. Raja sangat terbelalak dan sangat keget, ketika si pemuda di suruhnya menyembah sang raja, si pemuda menolak. Bahkan ia mejelaskan bahwa tak ada yang lebih kuasa dari Tuhan pencipta alam semesta. Si raja pun marah besar, ia menyuruh pengawalnya menyeret si pemuda ke suatu padang pasir dan dipasungnya pemuda itu hingga menjadi tontonan para penduduk. Si raja tak langsung membunuh si pemuda itu, di berinya waktu kepada pemuda itu untuk kembali berpikir yang akhirnya dapat kembali memuja si raja. Namun, berbekal kekuatan yang ia dapatkan dari si pendeta, si pemuda tetap bersikukuh untuk tidak mau menyembah sang raja. Bagi dirinya, yang wajib disemabh hanyalah Tuhan. Mendengar jawaban dari si pemuda yang tetap bersikukuh tidak mau menyembah dirinya sebgai raja, akhirnya sang raja menjatuhi hukuman mati kepada si pemuda tersebut. Si raja ingin kematian si penuda itu disaksikan oleh seluruh penduduk di negerinya. Maka dibawanya pemuda tadi ke suatu tanah lapang yang sangat luas dan dipenuhi oleh para penduduk negeri itu. Ketika itu, si pemuda hanya pasrah dan berdoa kepada Tuhan agar ditunjukkan jalan yang terbaik bagi dirinya. Saat si pemuda hendak dibunuh, ia berbicara kepada sang raja. “ raja, jika engkau ingin aku mati, kau bisa membunuhku dengan tanganmu sendiri,ketika engkau bunuh aku, ucapkanlah Demi Tuhan, pemuda yang ada di depanku ini akan mati “ si raja pun menyanggupinya, baginya si pemuda di depan dirinya ini harus segera mati. Maka, dengan disaksikan seluruh penduduk negeri itu sang raja dengan beucap Demi Tuhan, pemuda yang ada di depanku ini akan mati. Ketika itu pula Kuasa Tuhan bertindak, si pemuda saat itu juga mati. Penduduk yang menyaksikan hal itu seakan tak percaya, setelah melihat kejadian itu para penduduk menjadi berpikir bahwa sebenarnya yang berkuasa di dunia ini adalah Tuhan. Maka sejak saat itu, hampir semua penduduk tidak mau lagi menyembah kepada sang raja, dan mereka mulai belajar mengenai ajaran Tuhan.
Itulah slah satu contoh bagaimana kita harus bersabar dalam mencari ilmu. Layaknya si pemuda tadi, ia sangat sbar menjalani ilmu yang ia dapat, walaupun sebenarnya apa yang ia dapat adlah ilmu yang sangat bertentangan adanya. Tapi, semangat sang pemuda untuk mencari kebenaran selalu mendorongnya untuk tetap mencari ilmu. Hingga akhirnya ia menemukan kebenaran dari kedua ilmu yang ia dapatkan, bahkan di saat terakhir dalam hidupnya ia dapat menyampaikan ilmu itu dan membuktikan kepada seluruh penduduk di negeri itu tentang bagaimana ajaran yang benar dan hrus mereka mengerti. Subhanallah….
Semoga dapat selalu menjadi motivasi bagi kita dalam mencari ilmu,aamiin……..
Mentoring, sabtu, 26 Februari 2011
DREAM,FIGHT,IKHLAS SETIAP ORANG BERHAK ATAS SEGALA HARAPAN YANG ADA, THERE ALWAYS A WAY TO REACH THE DREAM. BE A STAR!!! -inas shoda-
try to be new and everything must be better :)
Senin, 14 Maret 2011
SABAR DALAM MENCARI ILMU
SABAR DALAM KENIKMATAN
Bismillahhirrahmanirrahim…
Kala itu langit mungkin sedang tak begitu berbaik hati. Pagi yang cerah tidak secerah biasanya. Langit lebih suka menampakkan mendung disertai rintik-rintik hujan. Walaupun seperti itu, tak mengubah semangat para satria ganesha untuk tetap beraktivitas di bumi ganesha tercinta. Begitu pula dengan kelompok majelis ini. Walaupun hari itu terhitung hari libur, ternyata semangat mereka yang selalu haus akan ilmu lebih besar daripada mereka habiskan untuk bersantai di rumah, subhanallah……
(semoga kita tetap istiqomah selalu,aamiin… ).
Memang benar, jika kita mengerjakan sesuatu karena ALLAH dan berada di jalan ALLAH, pastilah apa yang kita kerjakan akan bermanfaat bagi kita. Hal ini juga yang kurasakan bersama teman-temanku di kelompok mentoring ini. Mentoring selalu dapat memberiku pencerahan, pengingat untuk selalu bermuhasabah, dan jalan untuk lebih dekat mengenali Sang Kuasa. Seperti pertemuan sebelumnya, mentoring pagi itu dibuka dengan tilawah dan dilanjutkan materi. Materi kali itu adalah sebuah cerita bagaimana kita memaknai kesabaran dalam hidup kita.
Menurut kisah, pada zaman dahulu hiduplah tiga orang dengan keadaan fisik yang cacat. Masing-masing dari ketiga orang tadi duji oleh ALLAH melalui penyakit yang mereka derita dan tak kunjung sembuh. Orang pertama adalah si belang, dia mempunyai penyakit belang di sekujur tubuhnya. Warna kulitnya tak seindah seperti yang dimiliki orang lain pada umumnya. Warna kulitnya belang, sbagian seperti bekas terkena luka bakar. Karena hal inilah, si belang sering kali malu kepada dirinya sendiri. Orang kedua adalah si tuli. Sama halnya dengan si belang, si tuli ini juga sering kali malu kepada kondisi dirinya sendiri. Cacat fisik yang dimilikinya menjadikan dia merasa sangat berbeda dengan orang lain yang nrmal.
Orang ketiga adalah si buta. Tak jauh dari si belang dan si tuli. Si buta juga memiliki cacat fisik, dengan kondisi cacat fisik yang ia derita, ia tak mampu melihat ataupun menikmai keindahan ciptaan dari Sang Kuasa.
Suatu ketika, ALLAH memerintahkan malaikat untuk membantu ketiga orang tersebut.
Sang malaikat mendatangai si belang. Si belang pun ditanya 2 hal. Hal pertama ia ditanya apa yang paling ia inginkan di dunia ini. Si belang pun menjawab ia ingin kulitnya tidak lagi belang dan normal seperti orang lain pada umumnya. Saat itu pula atas kehendak ALLAH, kulit si belangpun tidak lagi menjadi belang dan normal seprti orang lain. Hal yang kedua malaikat menanyakan lagi, hal apakah yang paling si belang butuhkan sekarang, si belangpun menjawab seekor unta, dan ALLAH memberikannya seekor unta.
Setelah dari tempat si belang, malaikat mendatangi si tuli. Malaikat juga menanyakan hal yang sama pada si tuli. Hal pertama si tuli menginginkan dirinya dapat kembali mendengar sepertiorang lain pada umumnya dan ALLAH mengabulkannya. Hal kedua ketika ia ditanya perihal apakah yang sedang ia butuhkan sekrang, ia menjawab seekor sapi, ALLAH pun kembali mengabulkannya.
Terakhir malaikat mendatangi si buta. Sama halnya dengan si belang dan si tuli. Si buta juga ditanya perihal apa yang ia inginkan sekarang. Ia menjawab bahwa ia ingin bisa melihat, sehingga ia dpat menikmati keindahan dunia. ALLAH pun mengabulkan permintaan si buta. Hal kedua, si buta menjawab bahwa ia membutuhkan seekor kambing dan ALLAH pun memberikannya seekor kambing.
Hari bergani hari, tahun demi tahun sudah terlewatkan. Ketiga orang tadi kini sudah hidup dengan sukses, makmur dan kaya. Ternak yang diberikan ALLAH kepada mereka kini sudah betambah banyak. Si belang memiliki beratus-ratus unta, si tuli memiliki beratus-ratus sapi, dan si tuli memiliki beratus-ratus kambing. Kehidupan mereka sangat berbeda dengan kehidupan mereka yang dulu.
Suatu ketika ALLAH memerintahkan malaikat untuk mendatangi kembali mereka. ALLAH ingin mengetahui seberapa bersyukurlah mereka atas nikmat yang telah ALLAH berikan pada mereka.
Dengan menyamar menjadi seorang pengemis tua, malaikat mendatangi ketiganya.
Ketika sampai di rumah si belang, malikat dengan wujud pengemis tua tersebut meminta belas kasihan kepada si belang. Ia meminta diberikan sedikit unta yang dimiliki si belang. Dengan kasar si belang menolaknya. Kemudian si pengemis tua tadi bertanya, “bukankah kamu si belang yang dulu tidak mempunyai apa-apa dan hanya memiliki kulit yang jelek?” ditanya seperti itu si belangpun marah, ia tidak mau mengakui seperti apa dirinya dulu, bahkan ketika ditanya perihal dari mana ia mendapatkan harta yang berlimpah ruah seperti sekarang ini, ia juga tidak mau mengakui bahwa semua itu pemberian ALLAH.
Hal sama juga terjadi ketika malaikat dengan wujud pengemis tua mendatangi si tuli.
Namun, tidak seperti si buta, ketika malaikat mendatangi rumahnya si buta menyambutnya dengan baik. Ketika pengemis tua meminta sedikit rezeki yang si buta miliiki, ia tanpa piker panjang langsung memberikannya kepada pengemis tua itu. Pengemis tua pun bertnya, “mengapa kamu mau memberikan rezekimu padaku?” si buta pun menjawab, “sesungguhnya itu bukanlah hartaku, itu hanyalah harta titipan dari ALLAH.”
Saat itu pula, kekuasaan ALLAH menjawab. Si tuli dan si belang karena ketamakan yang mereka miliki, ALLAH membinasakan keduanya. Namun tidak bagi si buta, ALLAH semakin menambah rezeki si buta, karena kedermawanannya yang ia miliki.
Itulah suatu cerita yang menggambarkan bagaimana kita harus bersabar dalam kenikmatan.
Bersabar tak hanya kita butuhkan ketika kita mendapat ujian dari ALLAH. Tapi, ketika kita mendapatkan kenikmatan dari ALLAH pun, kita harus bersabar. Brsabar bagaimana kita mengendalikan nafsu kita agar kita tak selalu menuruti nafsu belaka. Selalu bersykur atas pemberian ALLAH dan tak sombong sedikitpun dari apa yang kita punya adalah salah satu cara bagaimana kita bersabar dalam nikmat.
KKEEP ISTIQOMAH!!! Aamiin… ^^
Semarang, 26 februari 2011
Kala itu langit mungkin sedang tak begitu berbaik hati. Pagi yang cerah tidak secerah biasanya. Langit lebih suka menampakkan mendung disertai rintik-rintik hujan. Walaupun seperti itu, tak mengubah semangat para satria ganesha untuk tetap beraktivitas di bumi ganesha tercinta. Begitu pula dengan kelompok majelis ini. Walaupun hari itu terhitung hari libur, ternyata semangat mereka yang selalu haus akan ilmu lebih besar daripada mereka habiskan untuk bersantai di rumah, subhanallah……
(semoga kita tetap istiqomah selalu,aamiin… ).
Memang benar, jika kita mengerjakan sesuatu karena ALLAH dan berada di jalan ALLAH, pastilah apa yang kita kerjakan akan bermanfaat bagi kita. Hal ini juga yang kurasakan bersama teman-temanku di kelompok mentoring ini. Mentoring selalu dapat memberiku pencerahan, pengingat untuk selalu bermuhasabah, dan jalan untuk lebih dekat mengenali Sang Kuasa. Seperti pertemuan sebelumnya, mentoring pagi itu dibuka dengan tilawah dan dilanjutkan materi. Materi kali itu adalah sebuah cerita bagaimana kita memaknai kesabaran dalam hidup kita.
Menurut kisah, pada zaman dahulu hiduplah tiga orang dengan keadaan fisik yang cacat. Masing-masing dari ketiga orang tadi duji oleh ALLAH melalui penyakit yang mereka derita dan tak kunjung sembuh. Orang pertama adalah si belang, dia mempunyai penyakit belang di sekujur tubuhnya. Warna kulitnya tak seindah seperti yang dimiliki orang lain pada umumnya. Warna kulitnya belang, sbagian seperti bekas terkena luka bakar. Karena hal inilah, si belang sering kali malu kepada dirinya sendiri. Orang kedua adalah si tuli. Sama halnya dengan si belang, si tuli ini juga sering kali malu kepada kondisi dirinya sendiri. Cacat fisik yang dimilikinya menjadikan dia merasa sangat berbeda dengan orang lain yang nrmal.
Orang ketiga adalah si buta. Tak jauh dari si belang dan si tuli. Si buta juga memiliki cacat fisik, dengan kondisi cacat fisik yang ia derita, ia tak mampu melihat ataupun menikmai keindahan ciptaan dari Sang Kuasa.
Suatu ketika, ALLAH memerintahkan malaikat untuk membantu ketiga orang tersebut.
Sang malaikat mendatangai si belang. Si belang pun ditanya 2 hal. Hal pertama ia ditanya apa yang paling ia inginkan di dunia ini. Si belang pun menjawab ia ingin kulitnya tidak lagi belang dan normal seperti orang lain pada umumnya. Saat itu pula atas kehendak ALLAH, kulit si belangpun tidak lagi menjadi belang dan normal seprti orang lain. Hal yang kedua malaikat menanyakan lagi, hal apakah yang paling si belang butuhkan sekarang, si belangpun menjawab seekor unta, dan ALLAH memberikannya seekor unta.
Setelah dari tempat si belang, malaikat mendatangi si tuli. Malaikat juga menanyakan hal yang sama pada si tuli. Hal pertama si tuli menginginkan dirinya dapat kembali mendengar sepertiorang lain pada umumnya dan ALLAH mengabulkannya. Hal kedua ketika ia ditanya perihal apakah yang sedang ia butuhkan sekrang, ia menjawab seekor sapi, ALLAH pun kembali mengabulkannya.
Terakhir malaikat mendatangi si buta. Sama halnya dengan si belang dan si tuli. Si buta juga ditanya perihal apa yang ia inginkan sekarang. Ia menjawab bahwa ia ingin bisa melihat, sehingga ia dpat menikmati keindahan dunia. ALLAH pun mengabulkan permintaan si buta. Hal kedua, si buta menjawab bahwa ia membutuhkan seekor kambing dan ALLAH pun memberikannya seekor kambing.
Hari bergani hari, tahun demi tahun sudah terlewatkan. Ketiga orang tadi kini sudah hidup dengan sukses, makmur dan kaya. Ternak yang diberikan ALLAH kepada mereka kini sudah betambah banyak. Si belang memiliki beratus-ratus unta, si tuli memiliki beratus-ratus sapi, dan si tuli memiliki beratus-ratus kambing. Kehidupan mereka sangat berbeda dengan kehidupan mereka yang dulu.
Suatu ketika ALLAH memerintahkan malaikat untuk mendatangi kembali mereka. ALLAH ingin mengetahui seberapa bersyukurlah mereka atas nikmat yang telah ALLAH berikan pada mereka.
Dengan menyamar menjadi seorang pengemis tua, malaikat mendatangi ketiganya.
Ketika sampai di rumah si belang, malikat dengan wujud pengemis tua tersebut meminta belas kasihan kepada si belang. Ia meminta diberikan sedikit unta yang dimiliki si belang. Dengan kasar si belang menolaknya. Kemudian si pengemis tua tadi bertanya, “bukankah kamu si belang yang dulu tidak mempunyai apa-apa dan hanya memiliki kulit yang jelek?” ditanya seperti itu si belangpun marah, ia tidak mau mengakui seperti apa dirinya dulu, bahkan ketika ditanya perihal dari mana ia mendapatkan harta yang berlimpah ruah seperti sekarang ini, ia juga tidak mau mengakui bahwa semua itu pemberian ALLAH.
Hal sama juga terjadi ketika malaikat dengan wujud pengemis tua mendatangi si tuli.
Namun, tidak seperti si buta, ketika malaikat mendatangi rumahnya si buta menyambutnya dengan baik. Ketika pengemis tua meminta sedikit rezeki yang si buta miliiki, ia tanpa piker panjang langsung memberikannya kepada pengemis tua itu. Pengemis tua pun bertnya, “mengapa kamu mau memberikan rezekimu padaku?” si buta pun menjawab, “sesungguhnya itu bukanlah hartaku, itu hanyalah harta titipan dari ALLAH.”
Saat itu pula, kekuasaan ALLAH menjawab. Si tuli dan si belang karena ketamakan yang mereka miliki, ALLAH membinasakan keduanya. Namun tidak bagi si buta, ALLAH semakin menambah rezeki si buta, karena kedermawanannya yang ia miliki.
Itulah suatu cerita yang menggambarkan bagaimana kita harus bersabar dalam kenikmatan.
Bersabar tak hanya kita butuhkan ketika kita mendapat ujian dari ALLAH. Tapi, ketika kita mendapatkan kenikmatan dari ALLAH pun, kita harus bersabar. Brsabar bagaimana kita mengendalikan nafsu kita agar kita tak selalu menuruti nafsu belaka. Selalu bersykur atas pemberian ALLAH dan tak sombong sedikitpun dari apa yang kita punya adalah salah satu cara bagaimana kita bersabar dalam nikmat.
KKEEP ISTIQOMAH!!! Aamiin… ^^
Semarang, 26 februari 2011
Jumat, 25 Februari 2011
DOKTER UMAT (aamiin.....) :)
bismillahhirrahmanirrahim...
Oleh Ali Mustofa
Sewaktu masih kecil, ketika masih tampak imut dan lucu-lucunya, banyak diantara kita saat ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan, 'kalau besar cita-citanya ingin jadi apa?' maka sontan akan menjawab ingin jadi dokter. Ya begitulah, menjadi dokter memang merupakan profesi favorit kebanyakan orang.
Namun ternyata setelah besar, impian itupun tak bisa terwujud dikarenakan sesuatu hal. Maka kita tak perlu khawatir, kita masih bisa kok menjadi dokter. Tapi yang ini bukan yang biasa nyuntik orang di rumah sakit, atau yang biasa menulis sebuah resep obat yang tulisannya dibuat agak acak-acakkan. Melainkan menjadi dokter umat alias pengemban dakwah.
Menjadi dokter umat tidak perlu mengeluarkan kocek dalam-dalam, juga tidak memerlukan seleksi super ketat saat ujian masuk fakultas kedokteran. Cukup dengan membulatkan tekad untuk mengaji (halqah) serta memperdalam ilmu agama, dan siap menjadi pembela Islam, penjaga Islam yang terpercaya.
Peluang terbuka selebar-lebarnya, negri ini masih banyak membuka lowongan menjadi dokter umat, hal ini mengingat sejatinya masyarakatnya Indonesia bisa dibilang masih banyak yang sakit. Yang dimaksud sakit disini bukan sakit sebagaimana pada umumnya, seperti: batuk, pilek, jantung, magh, tipes dan lain sebagainya. Melainkan sakit pada pemikirannya.
Seperti diketahui, sudah lama masyarakat Indonesia semenjak ordelama hingga orde baru sampai sekarang ini terus dicekokin dengan virus-virus pemikiran barat, sebuah ajaran yang bertentangan dengan syariah Islam. Alhasil, sebagian diantara masyarakat yang kemudian kurang begitu paham akan keindahan Ideologi Islam, justru malah gandrung dengan ide-ide barat seperti halnya sekulerisme, pluralisme, kapitalisme, sosialisme, demokrasi, nasionalisme, dll.
Korupsi semakin menggurita, angka kriminalitas merajalela, hamil diluar nikah menggejala, inilah buah ajaran barat tersebut. Ironisnya penguasa di negri ini malah menjadikannya sebagai standar untuk mengatur negara. Inilah letak pangkal kesalahannya. Karena memang, yang salah harus dikatakan salah, dan yang benar katakanlah benar. Sebagaimana ketika seorang dokter mendiaknosis, kemudian menemukan penyakitnya apa.
Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al- Baqarah : 42)
Karena itu, siapa saja bisa menjadi dokter, kenapa kesempatan ini harus di sia-siakan?, kan sayang kalau tidak buruan memanfaatkan peluang emas ini. Tapi ingat, menjadi dokter umat memang tak akan mendapat upah yang begitu menggiurkan. Namun sekali lagi jangan khawatir, insyaAllah Dia Swt-lah yang akan memberikan upah yang lebih spesial.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yg menyeru kpd (Al-Khair) kebajikan, menyuruh kpd yg ma’ruf dan mencegah dari yg mungkar; mereka ialah orang-orang yg beruntung. ” (QS. Ali Imran: 104)
Imam At-Thabari menjelaskan ayat diatas, sebagaimana di dalam kitab tafsirnya: Al-khair di sini ialah Islam dan syariatnya yang disyariatkan Allah pada hambaNya. Al-Ma’ruf di sini ialah mengikut Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan dien Islam yang dibawanya. Al-Munkar di sini ialah kufur pada Allah, mendustakan Nabi Saw dan apa-apa yang dibawanya (At Thabari, 4/26)
Oleh Ali Mustofa
Sewaktu masih kecil, ketika masih tampak imut dan lucu-lucunya, banyak diantara kita saat ditanya oleh seseorang dengan pertanyaan, 'kalau besar cita-citanya ingin jadi apa?' maka sontan akan menjawab ingin jadi dokter. Ya begitulah, menjadi dokter memang merupakan profesi favorit kebanyakan orang.
Namun ternyata setelah besar, impian itupun tak bisa terwujud dikarenakan sesuatu hal. Maka kita tak perlu khawatir, kita masih bisa kok menjadi dokter. Tapi yang ini bukan yang biasa nyuntik orang di rumah sakit, atau yang biasa menulis sebuah resep obat yang tulisannya dibuat agak acak-acakkan. Melainkan menjadi dokter umat alias pengemban dakwah.
Menjadi dokter umat tidak perlu mengeluarkan kocek dalam-dalam, juga tidak memerlukan seleksi super ketat saat ujian masuk fakultas kedokteran. Cukup dengan membulatkan tekad untuk mengaji (halqah) serta memperdalam ilmu agama, dan siap menjadi pembela Islam, penjaga Islam yang terpercaya.
Peluang terbuka selebar-lebarnya, negri ini masih banyak membuka lowongan menjadi dokter umat, hal ini mengingat sejatinya masyarakatnya Indonesia bisa dibilang masih banyak yang sakit. Yang dimaksud sakit disini bukan sakit sebagaimana pada umumnya, seperti: batuk, pilek, jantung, magh, tipes dan lain sebagainya. Melainkan sakit pada pemikirannya.
Seperti diketahui, sudah lama masyarakat Indonesia semenjak ordelama hingga orde baru sampai sekarang ini terus dicekokin dengan virus-virus pemikiran barat, sebuah ajaran yang bertentangan dengan syariah Islam. Alhasil, sebagian diantara masyarakat yang kemudian kurang begitu paham akan keindahan Ideologi Islam, justru malah gandrung dengan ide-ide barat seperti halnya sekulerisme, pluralisme, kapitalisme, sosialisme, demokrasi, nasionalisme, dll.
Korupsi semakin menggurita, angka kriminalitas merajalela, hamil diluar nikah menggejala, inilah buah ajaran barat tersebut. Ironisnya penguasa di negri ini malah menjadikannya sebagai standar untuk mengatur negara. Inilah letak pangkal kesalahannya. Karena memang, yang salah harus dikatakan salah, dan yang benar katakanlah benar. Sebagaimana ketika seorang dokter mendiaknosis, kemudian menemukan penyakitnya apa.
Allah Swt berfirman: “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al- Baqarah : 42)
Karena itu, siapa saja bisa menjadi dokter, kenapa kesempatan ini harus di sia-siakan?, kan sayang kalau tidak buruan memanfaatkan peluang emas ini. Tapi ingat, menjadi dokter umat memang tak akan mendapat upah yang begitu menggiurkan. Namun sekali lagi jangan khawatir, insyaAllah Dia Swt-lah yang akan memberikan upah yang lebih spesial.
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yg menyeru kpd (Al-Khair) kebajikan, menyuruh kpd yg ma’ruf dan mencegah dari yg mungkar; mereka ialah orang-orang yg beruntung. ” (QS. Ali Imran: 104)
Imam At-Thabari menjelaskan ayat diatas, sebagaimana di dalam kitab tafsirnya: Al-khair di sini ialah Islam dan syariatnya yang disyariatkan Allah pada hambaNya. Al-Ma’ruf di sini ialah mengikut Nabi Shalallaahu alaihi wasalam dan dien Islam yang dibawanya. Al-Munkar di sini ialah kufur pada Allah, mendustakan Nabi Saw dan apa-apa yang dibawanya (At Thabari, 4/26)
Selasa, 15 Februari 2011
PESAN SAHABAT (6)
Doa adalah SENJATA,
pasrah kepada ALLAH adalah kekuatan sesungguhnya,
maka awalilah ikhtiar kita dengan DOA,
permudah dengan SHODAQOH,
akhiri dengan BERPASRAH DIRI kepada ALLAH,
dengan begitu hati kita tenang,
sedih dan letih akan terhibur dengan bermunajat kepada ALLAH,
itulah KEKUATAN YANG SEBENARNYA,
sehingga menjadikan kita PANTANG MENYERAH,
@harapanpastiada
pasrah kepada ALLAH adalah kekuatan sesungguhnya,
maka awalilah ikhtiar kita dengan DOA,
permudah dengan SHODAQOH,
akhiri dengan BERPASRAH DIRI kepada ALLAH,
dengan begitu hati kita tenang,
sedih dan letih akan terhibur dengan bermunajat kepada ALLAH,
itulah KEKUATAN YANG SEBENARNYA,
sehingga menjadikan kita PANTANG MENYERAH,
@harapanpastiada
understanding OTHERS
bismillahhirrahmanirrahim...
Oleh Syaifoel Hardy
Bin Omron, begitu nama pemukiman di salah satu sudut kota Doha-Qatar, tergolong cukup banyak jumlah masjidnya, meski kecil daerahnya. Tidak lebih dari 1 km panjang dan 500 meter lebarnya. Jumlah masjidnya sekitar 10 buah.
Di situ, boleh dikata padat akan masjid-masjid kecil. Tempat saya tinggal tidak terkecuali. Jika mau ke arah barat, timur, utara atau selatan, nyaris sama jaraknya, masjid dengan mudah di dapat, hanya dengan jalan kaki. Tidak seperti di Dubai di mana masjid rata-rata terpelihara dengan baik, di Bin Omron ini tidaklah demikian. Meski begitu, memiliki keunikan tersendiri. Yang saya maksudkan adalah jamaah masjidnya.
Suatu hari, saya pergi ke masjid sebelah selatan gedung kami. Pertama kali saya Salat Maghrib di sana, beberapa saat usai salam, terdengar acapan ‘Salam’ cukup keras. Berasal dari salah satu jamaah: ”Assalamu’alaikum”. Yang kemudian dijawab oleh sebagian orang: “wa’alaikum salam…”
Saya mencoba mencari dari mana suara tadi bermuara. Gagal. Hal tersebut berulang kali terjadi. Saya memang tidak selalu mengerjakan salat di masjid tersebut. Rasa ingin tahu siapa pemilik suara salam tadi pun berlalu.
Di kali lain, di dalam masjid yang sama, saya berada di baris kedua. Kembali, sesudah selesai mengucap salam, selang beberapa saat, terdengar ‘Salam’ dari orang yang sama, yang bukan asing, karena pernah mendengarnya. Saat itulah saya mengetahui siapa pemilik sejatinya, meski belum jelas sekali wajah pemiliknya. Yang pasti, orang tua. Hal ini saya ketahui lewat postur tubuhnya.
Sesudah itu, saya penasaran ingin mengetahu lebih lanjut……hingga…
Sore tadi, bapak tua, sang Pengucap Salam, yang saya percaya asli Qatar, bangkit dari tempat duduknya. Beliau selalu menempati baris pertama setiap salat. Subhanallah…ternyata orangnya tidak dapat melihat..alias buta. Saya ketahui, bukan hanya karena tongkat yang digenggamnya saja. Tetapi ketika saya tatap kedua mata beliau, memang cacat.
Jarak dari tempat duduknya ke pintu tidak lebih dari empat-lima langkah. Sepertinya beliau hapal benar liku-liku masjid ini. Namun segera, sesudah mendekati pintu ke luar masjid, secepat itu pula seorang anak muda, berkebangsaan India, menjemput tangan kiri orang tua ini. Membantu membimbingnya, guna mencari sandalnya.
Saya posisikan tubuh saya persis selangkah berada di belakang bapak tua ini. “Assalamu’alaikum ya Hajj….” Sapa saya. “Wa’alaikum salam…!” Jawabnya, disertai senyuman yang tersungging di bibirnya. Menunjukkan kegembiraan.
“Ada apa?” Katanya dalam Bahasa Arab. “Tidak ada apa-apa!” Jawab saya. “Hanya ingin menanyakan kabar anda saja!” Tegas saya.
“Siapa nama baik Bapak?” Kata saya lagi, meneruskan. “Jassim…” Jawabnya sambil berjalan dituntun pemuda India tadi. “Selamat jalan….” Saya menutup pembicaraan. “Terimakasih!” Dia pun pergi.
***
Pemandangan yang saya temui di atas tentu acapkali terjadi di banyak tempat dan di berbagai keadaan. Di mana seorang pemuda membantu orang tua yang buta, cacat, lumpuh dll. Saya yakin, pemuda tersebut dibayar untuk itu. Dia hanya lakukan pekerjaannya. Selesai.
Bisa saja rutinitas ini berlangsung sudah lama sekali. Bisa jadi pula, si pemuda ini tidak lagi merasakan apa-apa, tidak sebagaimana yang saya rasakan apabila saya menjadi pemuda tadi, yang harus menuntun bapak tua setiap saat. Pekerjaan yang dilakukan guna membantu Pak Tua ini, saya pula yakin, bukan hanya ke masjid. Bisa juga kala ke kamar mandi, makan, mengenakan pakaian, dan lain lain keperluan hidup. Beragam kegiatan, berbagai kemungkinan.
Satu hal yang saya pasti: pemuda tadi, memilki sesuatu yang tidak semua orang punya. Sesuatu yang saya maksudkan di sini adalah kemampuan untuk ‘memahami’ sesama, mengerti kebutuhan orang lain. Sesuatu yang nilainya sungguh tinggi dan amat mulia dari sisi kemanusiaan dan agama.
Kenapa saya katakan tidak semua orang memiliki kemampuan ini? Karena tanpa dibekali kemampuan memahami sesama, barangkali sudah dari dulu dia keluar dari pekerjaan ini. Atau, melarikan diri, lantaran betapa tersiksanya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.
Kalaupun dia terpaksa melakukannya, pasti bakal berdampak buruk. Bukan hanya pada diri orang lain, juga pada dirinya sendiri. Jika demikian, apa gunanya dia membimbing Pak Tua ini ke masjid setiap hari untuk ibadah yang dia pula bersujud dihadapanNya?
Kejadian ini menyisipkan sebuah pelajaran, bahwa agar bisa memahami sesama, kalaupun diniatkan sebagai lahan kerja, dibutuhkan ketegaran, tekad dan iman. Jika sekedar keinginan untuk mendapatkan imbalan semata, tentu akan menderita!
Doha, 6 February 2011
-eramuslim-
Oleh Syaifoel Hardy
Bin Omron, begitu nama pemukiman di salah satu sudut kota Doha-Qatar, tergolong cukup banyak jumlah masjidnya, meski kecil daerahnya. Tidak lebih dari 1 km panjang dan 500 meter lebarnya. Jumlah masjidnya sekitar 10 buah.
Di situ, boleh dikata padat akan masjid-masjid kecil. Tempat saya tinggal tidak terkecuali. Jika mau ke arah barat, timur, utara atau selatan, nyaris sama jaraknya, masjid dengan mudah di dapat, hanya dengan jalan kaki. Tidak seperti di Dubai di mana masjid rata-rata terpelihara dengan baik, di Bin Omron ini tidaklah demikian. Meski begitu, memiliki keunikan tersendiri. Yang saya maksudkan adalah jamaah masjidnya.
Suatu hari, saya pergi ke masjid sebelah selatan gedung kami. Pertama kali saya Salat Maghrib di sana, beberapa saat usai salam, terdengar acapan ‘Salam’ cukup keras. Berasal dari salah satu jamaah: ”Assalamu’alaikum”. Yang kemudian dijawab oleh sebagian orang: “wa’alaikum salam…”
Saya mencoba mencari dari mana suara tadi bermuara. Gagal. Hal tersebut berulang kali terjadi. Saya memang tidak selalu mengerjakan salat di masjid tersebut. Rasa ingin tahu siapa pemilik suara salam tadi pun berlalu.
Di kali lain, di dalam masjid yang sama, saya berada di baris kedua. Kembali, sesudah selesai mengucap salam, selang beberapa saat, terdengar ‘Salam’ dari orang yang sama, yang bukan asing, karena pernah mendengarnya. Saat itulah saya mengetahui siapa pemilik sejatinya, meski belum jelas sekali wajah pemiliknya. Yang pasti, orang tua. Hal ini saya ketahui lewat postur tubuhnya.
Sesudah itu, saya penasaran ingin mengetahu lebih lanjut……hingga…
Sore tadi, bapak tua, sang Pengucap Salam, yang saya percaya asli Qatar, bangkit dari tempat duduknya. Beliau selalu menempati baris pertama setiap salat. Subhanallah…ternyata orangnya tidak dapat melihat..alias buta. Saya ketahui, bukan hanya karena tongkat yang digenggamnya saja. Tetapi ketika saya tatap kedua mata beliau, memang cacat.
Jarak dari tempat duduknya ke pintu tidak lebih dari empat-lima langkah. Sepertinya beliau hapal benar liku-liku masjid ini. Namun segera, sesudah mendekati pintu ke luar masjid, secepat itu pula seorang anak muda, berkebangsaan India, menjemput tangan kiri orang tua ini. Membantu membimbingnya, guna mencari sandalnya.
Saya posisikan tubuh saya persis selangkah berada di belakang bapak tua ini. “Assalamu’alaikum ya Hajj….” Sapa saya. “Wa’alaikum salam…!” Jawabnya, disertai senyuman yang tersungging di bibirnya. Menunjukkan kegembiraan.
“Ada apa?” Katanya dalam Bahasa Arab. “Tidak ada apa-apa!” Jawab saya. “Hanya ingin menanyakan kabar anda saja!” Tegas saya.
“Siapa nama baik Bapak?” Kata saya lagi, meneruskan. “Jassim…” Jawabnya sambil berjalan dituntun pemuda India tadi. “Selamat jalan….” Saya menutup pembicaraan. “Terimakasih!” Dia pun pergi.
***
Pemandangan yang saya temui di atas tentu acapkali terjadi di banyak tempat dan di berbagai keadaan. Di mana seorang pemuda membantu orang tua yang buta, cacat, lumpuh dll. Saya yakin, pemuda tersebut dibayar untuk itu. Dia hanya lakukan pekerjaannya. Selesai.
Bisa saja rutinitas ini berlangsung sudah lama sekali. Bisa jadi pula, si pemuda ini tidak lagi merasakan apa-apa, tidak sebagaimana yang saya rasakan apabila saya menjadi pemuda tadi, yang harus menuntun bapak tua setiap saat. Pekerjaan yang dilakukan guna membantu Pak Tua ini, saya pula yakin, bukan hanya ke masjid. Bisa juga kala ke kamar mandi, makan, mengenakan pakaian, dan lain lain keperluan hidup. Beragam kegiatan, berbagai kemungkinan.
Satu hal yang saya pasti: pemuda tadi, memilki sesuatu yang tidak semua orang punya. Sesuatu yang saya maksudkan di sini adalah kemampuan untuk ‘memahami’ sesama, mengerti kebutuhan orang lain. Sesuatu yang nilainya sungguh tinggi dan amat mulia dari sisi kemanusiaan dan agama.
Kenapa saya katakan tidak semua orang memiliki kemampuan ini? Karena tanpa dibekali kemampuan memahami sesama, barangkali sudah dari dulu dia keluar dari pekerjaan ini. Atau, melarikan diri, lantaran betapa tersiksanya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.
Kalaupun dia terpaksa melakukannya, pasti bakal berdampak buruk. Bukan hanya pada diri orang lain, juga pada dirinya sendiri. Jika demikian, apa gunanya dia membimbing Pak Tua ini ke masjid setiap hari untuk ibadah yang dia pula bersujud dihadapanNya?
Kejadian ini menyisipkan sebuah pelajaran, bahwa agar bisa memahami sesama, kalaupun diniatkan sebagai lahan kerja, dibutuhkan ketegaran, tekad dan iman. Jika sekedar keinginan untuk mendapatkan imbalan semata, tentu akan menderita!
Doha, 6 February 2011
-eramuslim-
I LOVE YOU, my sist..
bismillahhirrahmanirrahim...
aku akan sangat bangga jika ada seseorang bertanya,
siapa kakakmu?
dengan bangga akan kujawab INDI HIMMA KHAIRANI,
dialah kakak terbaikku, satu-satunya kakak yang aku miliki,
tak akan pernah aku mau siapapun yang menggantikan posisi dia,
banyak orang yang bilang aku dan dia sangat mirip,
bahkan ada yang bilang aku dan dia kembar, (kembar dari mana coba???)
hehehe....
aku akui, secara fisik aku dan kakakku memang mirip, apalagi ketika kita semakin tumbuh besar dan dewasa, semakin terlihat bahwa kita mirip,
tapi, dari semua kemiripan itu kita memiliki sifat yang sama sekali TIDAK MIRIP, bahkan bisa dibilang sangat bertentangan,
ya, aku dan dia berbeda,
dulu... ketika aku masih kecil aku tak pernah sehari saja aku tdk berantem dengan dia, sekecil apapun masalah itu pasti selalu membuat kita saling adu mulut,
apa yang aku suka dan apa yang aku benci selalu berbeda dengan dia,
bahkan bisa jadi apa yang aku benci itu adalah apa yang dia suka, tetapi apa yang aku suka adalah apa yang dia benci, bgaimana nggak berantem coba?hemmmm...
tapi, lambat laun, tepatnya ketika dia SMA dan memutuskan untuk bersekolah di semarang,hubunganku dan dia menjadi lebih baik,mungkin karena kapasitas bertemu kurang kali ya,
lulus smp, aku memutuskan untuk mengikuti jejak langkah dia untuk bersekolah di semarang,
awalnya aku sama sekali tidak tertarik dan tidak mau sama sekali bersekolah di tempat yang sama dengan dia, saat itu mungkin aku masih sangat egois, bagiku waktu itu bersekolah di smp yang sama dengan kakakku itu sudah lebih dari cukup, karena mengapa?aku tidak suka jika aku harus dibanding-bandingkan dengan dia dalam segi apapun,yang pasti she is better than me, hehhee
tapi, orangtuaku saat itu hanya memberiku 2 pilihan, jika bersekolah di luar kota, aku hanya boleh di semarang, dan sma terfavorit di semarang adalah sma3, tempat di mana kakakku juga bersekolah,dan jika aku tidak di luar kota, berarti aku akan melanjutkan sma di kotaku sendiri, rembang. ketika itu aku sempat protes dengan kedua orang tuaku, karena aku sudah jauh-jauh hari meminta ke mereka bahwa aku memilih jogja sebagai tempat aku sekolah, dan ketika itu mereka mneyetujui asalkan aku memang diterima di sana. tapi, ternyata orangtuaku tak selamanya setuju dengan keputusanku itu, padahal saat itu aku sudah cukup gembira.
ternyata, lambat laun penilaianku tentang bahwa aku harus berbeda sekolah dengan kakakku akhirnya hilang, aku mulai tersadar, jika selama sekolah itu memang baik, mengapa aku harus mengelak untuk tidak masuk ke dalamnya?toh jika masalah aku dan dia lebih baik yang mana, bukankah setiap orang itu berbeda dan memiliki kempauan masing2?
itu adalah awal kesadaranku yang cukup melunturkan sifat egoisku
orangtua memang selalu lebih tau mana yang terbaik untuk anaknya, aku sungguh beruntung tidak menentang apa yang telah disarankan oleh kedua orangtuaku,
ya, semarang telah memberiku banyak pelajaran,
sedikitnya waktu bertemu dengan orangtuaku, jauhnya aku dari kampung halamanku,
membuatku semakin tersadar bahwa hidup memang selalu butuh perjuangan,
perbedaan atmosfer di sekolah yang dulu dengan sekolah yang sekarang membuatku lebih dapat menghargai dan mengenali karakter teman yang satu dnegan yang lain,
aku juga sangat beruntung dan berterima kasih, di semarang jugalah aku dapat berkumpul di suatu majelis yang insyALLAH dapat selalu membuatku untuk bisa lebih memperdalam ilmu agama dan menjadikanku lebih baik, jika dulu aku tak mengenal itu, sekarang aku jadi selalu ingin berada di tempat itu, berada di sekeliling orang-orang sholeh, bertukar pikiran, saling menyemangati satu sama lain,
semua yang aku dapatkan di sini tak pernah lepas juga dari bantuan kakakku,
dialah yang memperkenalkanku pada majelis-majelis itu,
dia pula yang selalu mengarahkan aku dan memberi tahuku mana yang baik dan mana yang buruk, karena ketika di semarang, kakakku sebgai penggnti dari kedua orang tuaku,
dia juga tak pernah mengeluh ketika aku sedang banyak bertanya tentang ini dan itu,
dia juga selalu dengan sbar menjelaskannnya sampai benar-benar aku mengerti,
entah hal itu soal pelajaran sekolah yang tidak aku mengerti atau hal tentang fiqih agama,
i love you, my sist...
di awal kehidupanku di semarang, aku dan dia mungkin masih terlihat sering bertengkar,
saling beda pendpat tentang ini dan itu,
masih saling merasa bahwa masing-masing adalah yang benar,
tapi,alhamdulillah....
seiring bertambah dewasa, semoga aku dan dia dapat selalu menjadi lebih baik,
menjadi kebanggan orangtua kami,aamiin...
dan kini yang pasti, satu yang ku harap, aku bisa mengikuti jejak langkah dia kembali,aamiin yaALLAH...
love you my sist...
aku akan sangat bangga jika ada seseorang bertanya,
siapa kakakmu?
dengan bangga akan kujawab INDI HIMMA KHAIRANI,
dialah kakak terbaikku, satu-satunya kakak yang aku miliki,
tak akan pernah aku mau siapapun yang menggantikan posisi dia,
banyak orang yang bilang aku dan dia sangat mirip,
bahkan ada yang bilang aku dan dia kembar, (kembar dari mana coba???)
hehehe....
aku akui, secara fisik aku dan kakakku memang mirip, apalagi ketika kita semakin tumbuh besar dan dewasa, semakin terlihat bahwa kita mirip,
tapi, dari semua kemiripan itu kita memiliki sifat yang sama sekali TIDAK MIRIP, bahkan bisa dibilang sangat bertentangan,
ya, aku dan dia berbeda,
dulu... ketika aku masih kecil aku tak pernah sehari saja aku tdk berantem dengan dia, sekecil apapun masalah itu pasti selalu membuat kita saling adu mulut,
apa yang aku suka dan apa yang aku benci selalu berbeda dengan dia,
bahkan bisa jadi apa yang aku benci itu adalah apa yang dia suka, tetapi apa yang aku suka adalah apa yang dia benci, bgaimana nggak berantem coba?hemmmm...
tapi, lambat laun, tepatnya ketika dia SMA dan memutuskan untuk bersekolah di semarang,hubunganku dan dia menjadi lebih baik,mungkin karena kapasitas bertemu kurang kali ya,
lulus smp, aku memutuskan untuk mengikuti jejak langkah dia untuk bersekolah di semarang,
awalnya aku sama sekali tidak tertarik dan tidak mau sama sekali bersekolah di tempat yang sama dengan dia, saat itu mungkin aku masih sangat egois, bagiku waktu itu bersekolah di smp yang sama dengan kakakku itu sudah lebih dari cukup, karena mengapa?aku tidak suka jika aku harus dibanding-bandingkan dengan dia dalam segi apapun,yang pasti she is better than me, hehhee
tapi, orangtuaku saat itu hanya memberiku 2 pilihan, jika bersekolah di luar kota, aku hanya boleh di semarang, dan sma terfavorit di semarang adalah sma3, tempat di mana kakakku juga bersekolah,dan jika aku tidak di luar kota, berarti aku akan melanjutkan sma di kotaku sendiri, rembang. ketika itu aku sempat protes dengan kedua orang tuaku, karena aku sudah jauh-jauh hari meminta ke mereka bahwa aku memilih jogja sebagai tempat aku sekolah, dan ketika itu mereka mneyetujui asalkan aku memang diterima di sana. tapi, ternyata orangtuaku tak selamanya setuju dengan keputusanku itu, padahal saat itu aku sudah cukup gembira.
ternyata, lambat laun penilaianku tentang bahwa aku harus berbeda sekolah dengan kakakku akhirnya hilang, aku mulai tersadar, jika selama sekolah itu memang baik, mengapa aku harus mengelak untuk tidak masuk ke dalamnya?toh jika masalah aku dan dia lebih baik yang mana, bukankah setiap orang itu berbeda dan memiliki kempauan masing2?
itu adalah awal kesadaranku yang cukup melunturkan sifat egoisku
orangtua memang selalu lebih tau mana yang terbaik untuk anaknya, aku sungguh beruntung tidak menentang apa yang telah disarankan oleh kedua orangtuaku,
ya, semarang telah memberiku banyak pelajaran,
sedikitnya waktu bertemu dengan orangtuaku, jauhnya aku dari kampung halamanku,
membuatku semakin tersadar bahwa hidup memang selalu butuh perjuangan,
perbedaan atmosfer di sekolah yang dulu dengan sekolah yang sekarang membuatku lebih dapat menghargai dan mengenali karakter teman yang satu dnegan yang lain,
aku juga sangat beruntung dan berterima kasih, di semarang jugalah aku dapat berkumpul di suatu majelis yang insyALLAH dapat selalu membuatku untuk bisa lebih memperdalam ilmu agama dan menjadikanku lebih baik, jika dulu aku tak mengenal itu, sekarang aku jadi selalu ingin berada di tempat itu, berada di sekeliling orang-orang sholeh, bertukar pikiran, saling menyemangati satu sama lain,
semua yang aku dapatkan di sini tak pernah lepas juga dari bantuan kakakku,
dialah yang memperkenalkanku pada majelis-majelis itu,
dia pula yang selalu mengarahkan aku dan memberi tahuku mana yang baik dan mana yang buruk, karena ketika di semarang, kakakku sebgai penggnti dari kedua orang tuaku,
dia juga tak pernah mengeluh ketika aku sedang banyak bertanya tentang ini dan itu,
dia juga selalu dengan sbar menjelaskannnya sampai benar-benar aku mengerti,
entah hal itu soal pelajaran sekolah yang tidak aku mengerti atau hal tentang fiqih agama,
i love you, my sist...
di awal kehidupanku di semarang, aku dan dia mungkin masih terlihat sering bertengkar,
saling beda pendpat tentang ini dan itu,
masih saling merasa bahwa masing-masing adalah yang benar,
tapi,alhamdulillah....
seiring bertambah dewasa, semoga aku dan dia dapat selalu menjadi lebih baik,
menjadi kebanggan orangtua kami,aamiin...
dan kini yang pasti, satu yang ku harap, aku bisa mengikuti jejak langkah dia kembali,aamiin yaALLAH...
love you my sist...
semua berawal dari niat dan bagaimana kita ikhlas :)
bismillahhirrahmanirrahim..
ikhlas memang bukan hal yang mudah,
kekuatan ikhlas adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dicapai,
tapi semua itu bukan berarti kita tak bisa untuk ikhlas bukan?
pasti ada proses di setiap pencapaian
yang menjadi permasalahan adalah bukan bisa atau tidaknya kita ikhlas,
tapi bagaimana kita bisa bertahan di dalam proses pencapaian itu,
terasa pahit memang,tapi akan manis kemudian
ya pasti akan manis ketika kita sudah berhasil dalam pencapaian itu,
ketahuilah,
setiap keputusan pasti ada alasan,
alasan untuk kebaikan itulah yang terbaik,
kebaikan milik kita semua,
setiap orang menginginkan yang terbaik untuk dirinya sendiri,
walaupun terkadang apa yang nantinya kita dapatkan,
kita merasa itu bukanlah yang terbaik untuk kita,
tapi, ingatlah selalu ALLAH LEBIH MENGETAHUI MELEBIHI APA YANG KITA TAHU,termasuk apa yang terbaik untuk kita.
ALWAYS BE BETTER AND DO THE BEST!!!
ikhlas memang bukan hal yang mudah,
kekuatan ikhlas adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dicapai,
tapi semua itu bukan berarti kita tak bisa untuk ikhlas bukan?
pasti ada proses di setiap pencapaian
yang menjadi permasalahan adalah bukan bisa atau tidaknya kita ikhlas,
tapi bagaimana kita bisa bertahan di dalam proses pencapaian itu,
terasa pahit memang,tapi akan manis kemudian
ya pasti akan manis ketika kita sudah berhasil dalam pencapaian itu,
ketahuilah,
setiap keputusan pasti ada alasan,
alasan untuk kebaikan itulah yang terbaik,
kebaikan milik kita semua,
setiap orang menginginkan yang terbaik untuk dirinya sendiri,
walaupun terkadang apa yang nantinya kita dapatkan,
kita merasa itu bukanlah yang terbaik untuk kita,
tapi, ingatlah selalu ALLAH LEBIH MENGETAHUI MELEBIHI APA YANG KITA TAHU,termasuk apa yang terbaik untuk kita.
ALWAYS BE BETTER AND DO THE BEST!!!
Langganan:
Postingan (Atom)