try to be new and everything must be better :)

Kamis, 16 Desember 2010

Pesan Sahabat (1)

pesan sahabat..

kehidupan adalah SAMUDERA
manudia sebagai KEPALANYA
ruh sebagai NAHKODANYA
maka jadikanlah ISLAM sebagai layarnya
QURAN dan HADIST sebagai kompasnya maka engkau akan selamat sampai pelabuhan akhirat yang KEKAL aamiin...

Selasa, 14 Desember 2010

Perjalanan Terbaik Mahasiswi Terbaik dengan satu Kaki

its a good story...

Tentang Seorang Hamba yang Memakai Akalnya Untuk Berfikir, Bukan Untuk Kecewa: Perjalanan Melly Menjadi Mahasiswi Terbaik UIN Meski Hanya Memiliki Satu Kaki.
***
“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2] : 155)
Airmata para dosen jatuh. Standing applause di ruang teater Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDKOM) membahana. Di antara mereka sampai tidak ada yang sanggup berdiri.
Tiada kebanggaan dimiliki seorang dosen dan keluarga menyaksikan ujian hidup sesosok mahasiswi dengan predikat Indeks Prestasi (IP) tertinggi meski selama bertahun-tahun dihantam keterbatasan.
Sejarah telah tercatat. Melly dianugerahi alumni terbaik FIDKOM 2010 pada saat pelepasan Wisudawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kendati selama ini hidup dengan satu kaki. Sebelah kakinya harus diamputasi setelah penyakit kanker tulang menyerangnya di pertengahan kuliah.
Ya meski begitu, Melly tidak mau menyerah pada kenyataan. Ia mendapat gelar cumlaude jauh di atas para mahasiswa lainnya, termasuk mahasiswa yang kedua kakinya masih lengkap.
Melly akhirnya keluar setelah memberi pidato sambutannya di ruangan teater Profesor Aqib Suminto. Ia dipapah dengan kursi roda. Memang tidak ada lagi gerak enerjiknya, tapi semua mahasiswa UIN mengelu-elukan namanya.
Lebih dari Ahmadinejad ketika mengunjungi UIN Jakarta 2008 silam. Sedangkan beberapa dosen masih terdiam, hanya lelehan air mata turun dari keikhlasan hati melepas Melly dari UIN. Melly tersenyum, tangannya terkepal.
Di hatinya, ia puas berhasil membuktikan kepada semua orang bahwa jarak antara keterbatasan diri dan kecintaan terhadap ilmu lebih tipis dari kulit bawang!
Perjalanan Awal Melly
Nama aslinya adalah Nurmeilita. Tipikal mahasiswi berkerudung lebar yang tidak percaya bahwa hidup tidak bisa ditaklukan. Bahwa satu-satunya cara menaklukan ketakutan adalah dengan menghadapinya.
Sayyid Quthb berkelamin feminim yang menyatakan lebih baik mati daripada menyerah pada keterbatasan. Namanya kini tertanam pada seluruh mahasiswa FIDKOM. Bahwa Allah, Kita, dan Arti Sebuah Perjuangan adalah keniscayaan.
Alumni salah satu SMA Negeri favorit di Bekasi ini memang unik. Kalau banyak jebolan SMA memilih untuk kuliah di kampus umum, Melly lebih memilih kuliah di UIN. Itupun bukan di Fakultas Kedokteran, Sains, dan MIPA.
Ia memilih jalur Ilmu Dakwah dengan jurusan Konseling Islam. Dengan akal yang masih polos, banyak orang bertanya padanya, “Mau cari mati dengan gaya apa seorang siswa lulusan SMA masuk ke Fakultas Keislaman di UIN yang ketat dalam studi keagamaan. Modal Rohis kuliah di sini belum cukup. Hasan Al Banna bisa menjadi Sartre di UIN.”
Maklum kala itu UIN Jakarta mendapat kekhawatiran tingkat tinggi setelah para mahasiswa jurusan Akidah Filsafat di UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan penistaan terhadap Allah.
Kala itu stigma kampus kami berubah dari Institut Agama Islam Negeri (sebelum menjadi UIN) diplesetkan menjadi “Ingkar Allah Ingkar Nabi”. Cibiran itu terasa betul. Lebih pedas dari cabai rawit sekalipun.
Melly kali pertama masuk UIN Jakarta pada tahun 2004. Memulai karir sebagai mahasiswa semester satu seperti pada umumnya: polos, manut kata senior dan pasrah mengikuti Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa atau Ospek sebagaimana kita mengenalnya).
Saat tiba giliran bagi tiap mahasiswa baru memberikan pandangan tentang jurusan barunya di UIN, Melly tampil memberikan beberapa patah kata. Dari situ orang sudah berkesimpulan bahwa Melly bukan orang sembarangan.
Gaya bicaranya bukan seperti anak SMA. Ia sudah berani membeberkan bahasa-bahasa ilmiah di tiap kalimat pembukanya. Tampaknya ia sadar, ia bukan lagi anak remaja.
Detik-detik Menghadapi Ujian
Setelah berjalan satu tahun kedepan, Melly berkembang menjadi mahasiswi UIN yang berbeda. Kecintaannya terhadap ilmu membawanya menjadi mahasiswi yang melebihi usianya.
Melly seperti bukan mahasiswi UIN berumuran 19 tahun pada umumnya. Kecintaannya terhadap ilmu membuatnya sering terlihat nongkrong di perpustakaan ketimbang menghabiskan waktu di bioskop. Mengutak-atik isi buku tinimbang larut dalam pergaulan semu.
Nilai semester awalnya selalu di atas 3,5. Berkat kecerdasannya, sebagai presiden BEM (Sistem di UIN mengharuskan menyebut pemimpin BEM, dengan sebutan presiden bukan ketua) penulis mengamanahkannya untuk mengisi pos Departemen Keilmuan.
Sebuah departemen yang tentunya terhitung danger bagi tiap-tiap BEM di UIN. Departemen ini harus aktif mengadakan seminar, kuliah umum, pelatihan, hingga diskusi-diskusi mingguan yang temanya pun tidaklah ringan.
Selain tema keIslaman, beberapa kali kajian ini juga membahas tentang Pendekatan Rasional Emotif, Behavioris, hingga Logoterapi. Kami ingin mahasiswa memiliki framework seimbang antara kuat dengan spirit keislaman tapi tidak awam jika suatu saat dihantam oleh gagasan Barat. Dan Melly menikmati itu.
Ia memang sangat menyukai diskusi dengan nalar kritisnya yang tajam. Maklum Melly besar di Lembaga Dakwah Kampus, ia memiliki framework Islam yang cukup kuat untuk tidak begitu saja menerima pandangan di luar Islam.
Waktu berganti waktu hingga kemudian Melly mulai mengidap penyakit misterius. Teman-temannya tidak lagi melihatnya di kampus. Aura tidak sedap mulai meliputi perasaan kami semua. Kabar angin tidak begitu jelas memberitahu di mana keberadaan Melly saat itu.
Hingga kemudian kami mendapat informasi, Melly kini menderita kelumpuhan dalam arti sebenarnya. Ya mahasiswi penikmat panjat gunung itu terbaring tidak bisa kemana-mana.
Kakinya terdiam tak dapat bergerak, sedangkan di dalam kerudungnya kerontokan mulai meliputi mahkotanya satu per satu. Mata kami tercengang mendengar berita menyakitkan itu.
Kawan-kawan kami pun kemudian bergegas mengunjunginya di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta Pusat. Setelah membuka pintu kamar, rekan-rekan sekelas Melly menutup mulut kecilnya.
Mereka jatuh haru berderai air mata melihat sosok gadis enerjik dan periang tersebut telah terkulai lemah. Sebagian civitas akademika mahasiswa Konseling Islam tidak mampu berkata apa-apa. Jiwa kami terbungkam.
Melly yang kami kenal sebagai mahasiswi solehah sedang diberi ujian mahadahsyat oleh Allah. Sampai-sampai kami beranggapan inikah akhir dari perjalanan hidup Melly? Melihat beratnya ujian yang ia alami.
Ketegaran Seorang Pecinta Ilmu Yang Pantang Menyerah
Uniknya, keharuan dari para sahabat dengan cepat ia tepis. Melly dengan gaya tomboynya menyadarkan kawan-kawan untuk tidak bersusah payah menangisi dirinya. Melly adalah tipikal wanita tegar, ia benci air mata.
Apalagi sengaja disuguhkan untuk dirinya. Bahkan berkali-kali Melly harus menyadarkan temannya bahwa ia tidak seburuk yang kami perkirakan. Walau Melly sadar betul kankernya bisa merenggut nyawanya sewaktu-waktu. “Tapi sumpah, Mel baik-baik aja kok.” ucapnya menyiratkan ia tidak ingin kita semua larut dalam kesedihan panjang.
Di tengah keterbatasan itu, ada cita-cita yang tidak ikut lumpuh seperti kakinya. Sekalipun kondisinya amat lemah, namun kecintaannya terhadap ilmu membuatnya tetap ingin melanjutkan kuliah.
Meski pada akhirnya, ia harus siap menganggung beban: bolak-balik ke perpus, naik lift dengan kursi roda, mengejar mata kuliah meski harus bertarung dengan harapan! Itu belum dihitung rasa sakitnya. Namun bukan Melly jika menyerah pada kenyataan. Ia telah berikrar untuk tidak menangis.
Keinginan terkuatnya adalah memberikan kado manis kepada Allah dan keluarga tercinta tentang makna terindah seorang pecinta ilmu. Meski tak berapa lama lagi ia hanya memiliki satu kaki. Beberapa kali ia sempat mendiskusikan skripsinya dengan penulis. Kala itu penulis sendiri sudah dalam tingkat akhir menyelesaikan kuliah.
Penulis memang memiliki pengalaman diskusi panjang dengan Melly. Menurut penulis, Melly adalah salah satu mahasiswi yang cukup berani hadir untuk diskusi dengan mahasiswa yang lebih senior.
Tidak hanya di situ, sebelumnya Melly sadar. Ia harus diuji kembali oleh beberapa nilai kuliahnya yang belum ia ambil di semester tujuh. Termasuk mata kuliah lainnya yang mesti mengulang di semester awal. Hingga jika ditotal keseluruhan ada tujuh mata kuliah yang harus ia ambil.
Bayangkan di tengah kondisi kaki tak bisa digerakkan, ia tetap rajin ke kampus menyelesaikan segala kekurangannya. Dan itu benar-benar dilakukannya lebih dari ikhlas, meski jarak Bekasi-Ciputat terlalu jauh bagi seorang perempuan yang diuji dengan keterbatasan.
Namun sekali lagi, kesabaran dan kekuatan memupuskan segala ketakutannya. Melly yakin Allah akan memperlakukannya dengan baik, jika ia selalu berusaha dan berdoa, meski ia kini berkursi roda.
Seiring berjalannya waktu, ujian Allah betul-betul menyentuh titik terlemah tubuhnya. Melly harus menerima kenyataan pahit bahwa dokter pengasuhnya di RSCM memberi tahu sang keluarga bahwa kaki si buah hati harus segera diamputasi.
Dengan penuh ketegaran, Melly memasrahkan dirinya kepada Allah. Aktifis dakwah kampus ini bersiap hidup dengan kaki pincang. Kanker bisa jadi adalah keladi yang menggagalkan kehidupannya. Tapi Melly paham betul bahwa kita harus selalu berbaik sangka kepada Allah. Melly boleh kecewa, tapi tidak untuk kecewa kepada Allah.
Setelah operasi selesai dilaksanakan, Melly sadar dari pembiusannya. Dengan kekuatan mentalnya, ia memberanikan diri mengangkat kepala untuk melihat kakinya. Melly tersenyum meratapi sebelah kakinya telah menghilang.
Namun ia tetap tidak mau menyerah. Bagaimanapun hidup harus terus berlanjut. Tak berapa lama ia kemudian mengerjakan segala tugas kuliah di pembaringan RSCM. Ya tujuh mata kuliah yang belum sempat usai ia ambil, karena keburu menjalani operasi. Semuanya berjalan beriringan di tengah rintihannya menahan rasa sakit pasca operasi.
Setelah semua mata kuliahnya selesai, ujian kembali datang. Ia ingat masih ada satu lagi hutangnya kepada kampus, yakni membuat skripsi. Subhanallah lagi-lagi Melly tak putus asa.
Ia sama sekali tak berniat melempar handuk lalu memilih berkutat dengan rasa sakitnya. Bayangkan Melly pun juga tidak memelas kepada pihak kampus agar ia dibebaskan dari skripsi. Inilah yang melatarbelakangi penulis tidak menyesal memberinya posisi Departemen Keilmuan kepadanya saat penulis menjadi Presiden BEM.
Bahkan di BEM, Melly juga ikut membantu bidang departemen yang lain. Dalam acara training motivasi, safari dakwah, mabit, pelatihan, ta’aruf mahasiswa baru, dan sebagainya. Melly selalu hadir di situ.
Ibarat kata Melly selalu memberi semangat jika BEM kami “kurang darah”. Sampai di situ, kami sama sekali tidak terfikir tentang bakal ujian apa yang akan menimpanya. Tidak ada satupun tanda-tanda mengarah kesana.
Kado Terindah Dari Allah
Akhirnya dengan kerja kerasnya selama ini, Melly berhasil menyelesaikan skripsi dengan baik. Semuanya dilakukan di kasur pembaringan, lengkap dengan rasa sakit yang terus menggerogoti tubunya. Keletihan pasca operasi dan proses menjalani Kemoterapi tiap harinya.
Melly kemudian menjalani Sidang Munaqosyah. Di hadapan para penguji, ia menjelaskan tentang penelitiannya. Dosen tidak merasakan betapa di tengah presentasinya, Melly sebenarnya menahan rasakan sakitnya. Senyum Melly membuat orang lupa bahwa ia masih menjalani Kemoterapi secara intens di RSCM.
Semua keluarga hanya bisa takjub dalam hati betapa Melly begitu trengginas menjawab pertanyaan penguji. Mereka bangga bukan karena Melly adalah mahasiswi pintar, mereka juga bukan bangga karena sang buah hati adalah bidadari cinta yang berhasil bertahan di tengah kondisi tak berperi, tapi mereka bangga telah dikaruniai seorang buah hati yang kuat imannya dan tak pernah sekalipun terlontar dari mulutnya tentang arti kekecewaannya kepada Allah.
Sampai pada waktu setelah selesai sidang, ia tidak sadar bahwa nilai skripsinya tergolong tinggi. Baginya, ia sudah cukup bersyukur dengan bisa menyelesaikan skripsi ini. Namun sapa nyana, logika seorang Melly masih jauh di bawah rencana Allah.
Kejutan itu datang, saat ia diwisuda. Melly mendapat kabar gembira bahwa ia telah berhasil mencatatkan dirinya sebagai mahasiswa dengan indeks prestasi tertinggi di fakultas (cumlaude) dan berhak atas gelar alumni terbaik.
Ya mahasiswi satu-satunya dalam sejarah UIN yang mendapatkan gelar mahasiswa terbaik meski hanya memiliki satu buah kaki. Satu-satunya mahasiswa yang tidak memberi ruang bagi air mata untuk menyerah.
Melly adalah bukti bahwa tauhid bukan sekedar kata kunci, tapi juga kata kerja. Kerja nyata untuk membangun harapan kepada Allah setelah diuji dengan pemaknaan.
Saya mengucapkan tasbih berkali-kali. Bagaimana mungkin orang yang saya kenal hidup dengan keterbatatsan, meski bolak-balik RSCM-Ciputat untuk Kemotrapi, kendati menahan sakit dalam mengerjakan skripsi, harus tetap semangat walau harapan diguncang kenyataan.
Melly bisa memiliki IP cumlaude dan menduduki peringkat IP tertinggi Se-FIDKOM serta yakin Allah di belakang ini semua. Melly adalah kata. Fragmentasi keterpecahan rasa takut untuk menjadi energi. Jangan pernah katakan tidak pada keterbatasan.
Ketika saya mengkonfirmasi kepada Ketua Jurusan apakah gelar terbaik itu hanyalah kado dari Dekanat atas jerih payahnya selama ini. Ketua Jurusan itu menampik dengan keras. Ia mengatakan bahwa Melly lulus murni, tanpa ada bantuan keringanan nilai atas simpati dosen meski secuil. Subhanallah. Inikah janji Allah atas seorang pecinta ilmu yang mengerahkan segala daya ikhtiarnya hanya kepada Allah.
Kita mungkin kemudian mencoba bertanya, bagaimana dengan masa depan Melly seterusnya. Sebagai seorang wanita, adalah lumrah bahwa mungkin cinta adalah kata yang jauh jika melihat kondisinya.
Saat itu saya membuka HP dan mengirim pesan selamat kepadanya. Saya kemudian malah terkejut saat diberi tahu bahwa ada bonus dari Allah untuk dirinya. Bahwa ternyata ia telah menikah sesaat setelah dirinya diwisuda.
Seorang dosen dari IPB telah berhasil memikat hatinya. Subhanallah dengan kondisi seperti ini, Melly masih sanggup menikah dan yakin bahwa keadilan Allah adalah nyata.
Saya kemudian bertanya-tanya inikah yang dijanjikan Allah tentang orang-orang yang bersabar, tentang kisah orang-orang yang memakai akalnya untuk berfikir, bukan untuk kecewa.
Betatapun Hancurnya Kita, Yakinlah Allah Tetap Bersama Kita.
Ikhwah fillah, ada satu fase dalam hidup kita, betapa kekecewaan bisa menghadapkan kita pada jalan kenistaan. Kadang ujian dan cobaan Allah menjadi buah bibir kita atas sumpah serapah kita kepada Allahuta’ala.
Ikhwah fillah, sadarlah, Allah akan menguji kita di titik terlemah kita. Allah akan menyentuh di bagian terpenting yang menjadi ciri ketidakberdayaan kita. Apakah itu kehilangan anggota tubuh kita, kehilangan fungsi tubuh kita, hingga kehilangan daya tubuh kita.
Namun yakinlah ikhwah jika itu tidak dapat kita tanggulangi dengan hati jernih, bukan tidak mungkin hal itu akan berdampak pada konten yang lebih dalam lagi. Dimulai dengan kehilangan iman kita, kehilangan fungsi iman kita, hingga kehilangan daya iman kita. Namun yakinlah ikhwah, sekalipun Allah menguji di titik terlemah kita, Allah tidak akan tega membiarkan hambaNya sampai betul-betul menjadi lemah.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqoroh [2] : 286)
Ikhwah fillah, sadarkah kita, bahwa Allah sebenarnya punya rencana indah di tengah keterbatasan kita. Buat apa kita kecewa, mengeluh, membenci, toh mengeluh dan kecewa tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah kita.
Yang terbaik bagi seorang mukmin ialah selalu beranggapan bahwa ujian pasti akan ada jalan keluarnya, baik yang bersifat jangka pendek maupun panjang.
Salah satu bentuk solusi jangka pendek adalah bahwa kita selalu bersabar dan mendirikan shalat ketika kecewa hadir menyapa kita.
Kita bisa membaca Qur’an dan mentadabburinya, belajar bagaimana perjuangan Rasulullah SAW saat getir-getir menyapanya dalam perjuangan hidup ini. Ingatlah ikhwatifillah sebaik-baiknya kententraman dimulai dari bagaimana kita selalu setia untuk mengingat Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah [2] : 153)
Sedangkan bentuk jangka panjang itu dimulai dari bagaimana kita selalu menjauhi diri dari kemaksiatan dan bersyukur atas nikmat Allah yang telah turun kepada diri kita. Banyaknya maksiat akan menghalangi masuknya ilmu kedalam hati kita.
Kebeningan hati hanya mungkin dapat ditempuh dengan memperbanyak ingatan kepada Allah SWT. Sementara berdzikir kepada Allah tidak mungkin bisa dilakukan tanpa ada prakondisi sebelumnya. yaitu, adanya kesiapan untuk tunduk dan patuh kepada seluruh perintah dan larangan Allah SWT.
Jangan pernah menyerah ya Ikhwah, betapapun terpuruknya kita, betatapun hancurnya hidup kita, betapapun jauhnya harapan kita, yakinlah ada sebuah Zat yang selalu setia menemani kita: Allohu ma’ ana!
“Maka ingatlah kepadaKu, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu ingkar kepadaKu.” (QS. Al Baqarah [2] : 152)
Puncak, 11 Desember 2010, Pukul 02.30

 -eramuslim.com-

and now i will forget all of memories :)

bismillahhirrahmanirrahim...

maybe it will be better, yeah
it will be better...
hahaha... lebay:mode on
sebenarnya bukan karena apa-apa,just hope the best,right?
bukankah sudah ada sutradara TERBAIK yang mengatur kehidupan kita?
memang boleh berencana, tapi seindah apapun rencana kita, kalo DIA tidak menghendaki, sama saja bukan?
aku hanya tersadar,
sepertinya melupakan dan tidak akan pernah kembali lagi itu yang terbaik,
hem...apa mungkin berlebihan?tapi menurutku tidak,
mencoba untuk selalu menyerahkan semuanya kepada yang lebih berhak menentukan,tanpa terbayangi apapun yang ada di masa lalu,
jika bayang-bayang masa lalu itu selalu ada,
aku takut tak bisa menerima  dengan ikhlas apa yang DIA berikan nanti,
lagipula setiap SATU makhluk berhak atas SATU harapan (tere-liye)
dan pasti tak ada manusia yang tak berharap yang TERBAIK untuk dirinya,
terlebih jika manusia itu sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik dengan segala perubahan yang ada pada dirinya, tak akan adil jika yang sudah mencoba menjadi terbaik tidak mendapatkan yang terbaik juga, ato mungkin yang lebih baik,
and me...
hahaha... tak ada yang bisa diharapkan lebih ,

MAYBE IT WILL BE BETTER IF I FORGET IT AND NEVER COME BACK AGAIN :)
JUST KEEP SPIRIT FOR ISTIQOMAH!! AAMIIN... :) :)

Minggu, 21 November 2010

mungkin terasa pahit, tapi akan manis di kemudian

bismillahhirrahmanirrahim...
tak ada kesuksesan tanpa usaha,
dan usaha yang sungguh-sungguhlah yang akan mengantar pada pintu kesuksesan.
MENGELUH bukan usaha yang harus kita lakukan, tapi kebiasaan yang harus kita hilangkan.
dan SEMANGAT BERJUANG harus selalu kita tanamkan.
memang, tak ada yang lebih hebat dan kuat dari padaNya,
hamba hanya makhluk lemah yaALLAH,
tapi, kelemahan hamba ini bukan menjadi penghalang untuk hamba menjadi sukses bukan?
bukankah jika Engkau telah meridhoinya maka hambapun bisa mendapatkannya?
sesungguhnya hanya kepadaMu hamba mengadu dan meminta...
yaRahman yaRahim...
di saat Engkau membukakan pintu itu sebagai jalan hamba seperti yang selalu hamba minta,
mengapa sangat sulit untuk menjaga keistiqomahannya yaALLAH?
hamba ingin ketika hamba berada di jalan itu,
jalan dengan segala ujian-ujianMu,
rasa sykurlah yang terucap dari bibir ini,
bukan keluh kesah yang hanya bisa membuat kita semakin melemah,
astaghfirullah hal adzim...
orang bilang, Engkau mengukur proses bukan hasil dari apa yang hambaMu kerjakan bukan?
hamba mohon yaALLAH selalu kuatkan hamba,
kuatkan hamba pada setiap ujianMu,
hamba tidak akan meminta Engkau meringankan ujian hamba,
tapi selalu berikanlah kekuatan dan kesabaran bagi hamba,
sebesar apapun ujian dariMu,tetap Engkaulah Sang Maha Besar,Seru Sekalian Alam,
biarkanlah ini terasa pahit,asal pahit itu hanya hamba yang merasa,
bukan orang-orang di sekitar hamba,
biarkanlah mereka tertular rasa manisnya,
layaknya aku melihat senyum manis di bibir ayah dan ibu atas hasil yang aku berikan kelak,
hamba selalu ingin menjadi slah satu makhluk mulia di sisiMu yaALLAH,
tapi,pantaskah hamba?
terlalu hina,
terlalu kotor,
tapi hamba berharap dan memohon, selain hamba meminta tempat mulia itu untuk dua orang yang aku cintai (ayah,ibu), sisakan satu tempat saja untuk hamba yaALLAH,agar hamba bisa bersama-sama dengan mereka,tersenyum bahagia berada di tempat mulliaMu,
aamiin aamiin aamiin.....

Senin, 08 November 2010

beri tahu aku dengan caraMu

biamillahhirrahmanirrahim...
ya......
hanya itu...itu yg ku harap,
aku perlu caraMu, caraMu Ya Rabb...
Engkaulah yg terahli dri yg plg ahli...
ajarkan aku.....
agar ku tak slalu salah...
hingga hati kian sesak dan pnuh sesal...

i love my mom

Kunyanyikan semua lagu
Untukmu Ibu
sebagai wujud terimakasih
Ku kepadamu
Tanpa lelah kau berjuang
Membesarkanku
Berikan yang terbaik untukku

Ijinkanlah tanganmu kucium
Dan kubersujud dipangkuanmu
Temukan kedamaian
Dihangat pelukmu

Didalam hati kuyakin
Serta percaya
ada kekuatan doa yang engkau titipkan
Lewat Tuhan membuat
??? Bila diri ini rapuh
Dan tiada berdaya

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

Kasih sayangmu begitu tulus
Kau cahaya dihidupku
Tiada seorang pun yang dapat menggantimu

Ada surga di telapak kakimu
Betapa besar arti dirimu
Buka pintu maafmu
Saat kulukai hatimu

Ada surga di telapak kakimu
Lambangkan mulianya dirimu
Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga

Uuuuu huuu uuuuu

Hanya lewat restumu
Terbuka pintu ke surga


~gita gutawa"Surga di telapak kakimu"~

just for my mom that really really amazing for me
i love you mom,coz Allah...  :D

Jumat, 05 November 2010

tak ada yang melebihi kuasaNya

bismillahhirrahmanirrahim...

hanya Dia Sang Pencipta semesta alam,
hanya Dia penguasa seluruh alam,
semua yang terjadi tak lain adalah kuasaNya,
kita tak berarti apa-apa dibanding semua itu,
............................
negeri ini sedang bersedih, semua peristiwa alam sedang hobi melanda ibu pertiwi kita.
tak tanggung-tanggung, bukan sekedar peristiwa alam kecil dan biasa, namun sungguh luar biasa. semakin meyakinkan bahwa Dia begitu kuasa di atas alam ini. lalu, apa yang harus kita perbuat?berdiam dan meratapi?atau cukup hanya menagisi dan menunggu bantuan datang?
bersedih memang diperbolehkan, tapi jangan sampai kita terlarut dalam kesedihan itu.
apa yang bisa kita dapat dari hasil tangis kita selain hanya air mata yang keluar?apa semua yang kita tangisi juga bisa kembali?tentu hal mustahil, tapi, percayalah kawan rencana Allah pasti indah, yang terindah dari yang indah, walaupun masih pahit yang kita rasakan. jangan takut untuk menghadapi semua apa yang terjadi, segala cobaan dan ujian yang diberikan Allah tak mungkin melebihi kemampuan hambaNya,  jadi tak mungkin tak ada jalan keluar dari semua permasalahan ini. berpikir postiflah selalu, karena dari berpikir postif itulah yang meamacu keyakinan kita dan berkata pada diri kita sendiri bahwa YA!!! YA KITA KUAT dan KITA BISA!!!
Mungkin Allah memang sedang ingin memberi peringatan kepada kita, bahwa sejatinya Allah masih sayang kepada kita semua. mungkin beberapa orang akan kurang setuju dengan kalimat itu, masih sayang???? benarkah?jika memang sayang bukankah seharusnya Allah tidak menurunkan bencana itu di negeri ini yang mengakibatkan beratus-ratus orang meninggal?dan hanya membuat sengsara kita?
Namun, tahukah kamu saudaraku, tahukah kamu bagaimana nasib manusia lain di belahan dunia lain?bagaimana Allah Sang maha kuasa memperlakukan mereka?
mungkin kalian akan kembali berpikir, orang-orang di belahan dunia lain, terlebih negara non-islam, mereka hidup aman,nyaman,tenteram, tetapi negara muslim?mengapa bencana-bancana sering Allah timpakan kepada negeri yang telah memujaMu?kenapa bencana itu tidak ditimpakan saja kepada manusia-manusia yang jelas tidak mau menuruti perintahMu, bahkan memujaMu saja mereka enggan, mengapa?semua terasa tidak adil, heyy...Allah adalah hakim seadil-adilnya bukan?
sebenarnya negeri kita ini sudah hampir tak jauh beda dengan negeri para orang kafir. tapi, Allah?Allah masih mau memberikan rasa kasih sayangNya kepada kita, tahukah kamu dengan segala bentuk bencana yang ditimpakan oleh Allah memberikan kita kesempatan dan berinstropeksi?berinstropeksi sejauh mana kita telah meninggalkanNya dan kapan kita akan kembali dekat denganNya?jika Allah tidak menimpakan bencana itu mungkin selamanya kita tidak akan mendapatkan kesempatan untuk berinstropeksi dan akan menjadi slah satu calon penghuni neraka karena kelalaian kita akan semua perintahNya, naudzubillah min dzalik...
lalu, bagaimana dengan para manusia kafir itu?akan mereka akan selalu bahagia di dunia sampai di akhir nanti?tidak!!!! tentu saja TIDAK!!! jika mereka tidak ditimpakan bencana oleh Allah itu berarti mereka kehilangan waktu untuk berinstropeksi diri dan menemukan jalan terang yang akan membimbingnya memuja asma Allah. mungkin Allah memang sudah tidak membutuhkan manusia-manusia seperti mereka, yang hanya bisa berfoya-foya tanpa ingat Dia. yang sellau takabur dan berkata bahwa merekalah yang terhebat dari yang hebat di dunia ini. Allah sama sekali tidak suka dengan manusia seperti itu kan??? Allah mungkin bisa saja langsung memasukkan mereka ke dalam calon penghuni neraka tanpa ada nego lagi dari Allah, masyaAllah...
semoga kita termasuk dalm orang-orang yang mulia di sisi Allah, aamiin....
jadi, marilah senantiasa kita bersyukur dan berusaha unuk menerima semua yang terjadi dengan hati yang lapang,
keep smile and spirit...!!!!!! ^^
special for : saudara-saudara yang sedang dilanda bencana merapi dan mentawai

Laman

Cari Blog Ini